pertanyaan tentang ma rifatullah
Jakarta NU Online Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur) mengatakan, kenikmatan terhebat yang mampu dirasakan di muka bumi adalah ma'rifatullah (mengenal Allah). "Kesadaran bagi para sufi bahwa hal yang paling nikmat adalah ma'rifatullah," jelas Gus Ghofur saat mengisi acara riyadhoh dan doa bersama yang diinisiasi PP Muslimat NU
Assalamualaikum Wr. Wb.Pak Kyai mohon penjelasan tentang Ma'rifatullah itu apa. Wasalamu'alaikum Wr. Wb.Dwi-setiyo_dwi@ edisi 81, ada tema utama kita,
Label Tiga Jalan Rohani Ma'rifatullah Pencapaian Ma'rifatullah dan Manunggaling Kawula Gusti Syekh Siti Jenar menyatakan dalam Serat Syekh Siti Jenar Pupuh III Dandanggula, 242-44, "Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi pancaindera.
swt (ma'rifatullah). Ma'rifat merupakan salah satu aspek dari kajian disiplin ilmu tasawuf yang disandarkan kepada sumber ajaran Islam, yaitu al-Qur'an dan Hadits atau sunnah yang tercermin dalam praktek kehidupan Rasulullah saw.5 Kata ma'rifat yang secara khusus menjadi konsep spiritual Islam di dalam al-
TentangMa'rifatullah Sebuah hadis meriwayatkan, pada suatu hari di majlis pengjian, Rasulullah bersabda ditengah-tengah orang banyak, tiba-tiba hadir seorang lelaki, lantas bertanya ? "Apa itu Iman, apa itu Islam, apa itu Ihsan ? dijawab pertanyaan tersebut oleh Rasulullah satu persatu.
Site De Rencontres Sérieux Pour Séniors. UNIVERSITAS PANCA SAKTI BEKASINama Anjani MWNIM 1882050036MK PAI I Dosen Pengampu Son Haji, soal dan Jawaban Hubungan antara Manusia dan Agama 1. Manusia adalah makhluk paling istimewa adalah salah satu ciri manusia yang dikutip dari?a. QS. 954 b. QS. 7172 c. QS. 230 d. QS. 432 e. QS. 527 2. Manusia merupakan makhluk Allah yang diciptakan ke dunia untuk menjadi khalifah. Apa tujuan hidup manusia di dunia? a. Menjadi Perwakilan b. Bersenang senang c. Berbuat maksiat d. Beribadah e. Mentaati peraturan 3. Keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, dan tanpa ada keraguan sedikit pun disebut? a. Tauhid b. Tasawuf c. Akidah d. Fiqh e. Akhlak 4. Suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya disebut? a. Fitrah b. Rezeki c. Nafsu al hawa d. Cita-cita e. Qalb 5. Faktor-faktor kebutuhan terhadap agama dan perannya dalam kehidupan manusia yang benar adalah… a. Kebutuhan akal terhadap pengetahuan tentang hakikat terbesar dan tunggal b. Kebutuhan Sandangc. Kebutuhan Pangan d. Kebutuhan Papane. Kebutuhan Ekonomi 6. Dalam konsep apakah fungsi manusia sebagai makhluk social?a. Konsep Bani Adamb. Konsep An-Nass c. Konsep Al-Insan d. Konsep al-Basyr e. Konsep Al-Ins 7. Menurut agama ada beberapa aspek dalam penyebutan nama pada manusia, kecuali… a. Aspek Historis b. Aspek Biologis c. Aspek Kecerdasan d. Aspek Sejarah e. Aspek Sosiologis 8. Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber… a. Kekuatan b. Kenikmatanc. Moral yang baik dan muliad. Kejayaane. Biologis 9. Di dalam agama manusia akan bertanggung jawab atas …… dirinya di akhirat. a. Rezekib. Jodohc. Mautd. Nikmate. Perbuatan10. Akal disebut nous atau logos berdasarkan bahasa… a. Yunanib. Moresc. Ethosd. Khuluk e. Jerman10 soal dan Jawaban Hubungan dengan Ma’rifatul Insan 1. 1. “…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang berbuat demikian itu adalah Allah…” Az-Zumar 6 Tiga kegelapan yang dimaksud ayat tersebut adalah...a. Kegelapan dalam perutb. Kegelapan dalam Rahimc. Kegelapan dalam selaput yang menutup dalam janin dan Rahimd. a,b,dan c betul semuae. tidak ada yang betul 2. Ayat Al-Quran yang menggambarkan proses penciptaan manusia adalah... a. QS. Al-Mukminun 12-14b. QS. Az-Zumar 6c. QS Al-Hajj 5d. QS Shaad 72 e. QS Yusuf 3 3. 3. Zat yang tak terlihat, tetapi hakekatnya itu terasa eksistensinya dalam jiwa manusia merupakan pengertian dari... a. Jasadb. Ruhc. Akald. Fisike. Pikiran 4. 4. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” At-Tin 4Merupakan Firman Allah SWT yang terdapat pada keistimewaan manusia dari segi... a. Ilmub. Kehendak untuk memilihc. Penciptaand. Kedudukane. Jabatan 5. 5. “Ar-Rahman yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.” Merupakan firman Allah SWT yang berisi mengenai keistimewaan manusia dari segi.... a. Kempuan bicarab. Kedudukanc. Ilmud. Penciptaane. Jabatan 6. 6. Menurut soal diatas, firman tersebut terdapat dalam surah... a. Al-Insan 3b. Al-Baqarah 29c. Bani Isra’il 70d. Ar-Rahman 1-4e. QS Shaad 727. 7. ada empat misi diciptakannya manusia di bumi ini, kecuali... a. Misi Peradaban Al Imarahb. Sebagai Pemimpin di Muka Bumi khalifah fil ardhic. Melakukan perintah Nyad. Beribadah Kepada Allah SWTe. Mengerjakan larangannya 8. 8. Hati, Akal dan Jasad adalah unsur?a. Tubuhb. Bagianc. Manusiad. Tumbuhane. Hewan 9. 9. Manusia mendapatkan kepercayaan dari Allah untuk mewakili kekuasaan-Nya di bumi sebagai khalifah, apa yang dimaksud dengan khalifah…a. Perwakilanb. Peralihanc. Pendatangd. Kemajuane. Kebaikan 10 10. Fasilitas tambahan yang hanya diberikan kepada manusia yang bertakwa, kecuali…a. Rahmatb. Furqaanc. Keberkahand. Ke-Mudharat ane. Rezeki10 soal dan jawaban tentang Etika Moral dan Akhlak1. Sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem tata nilai suatu masyarakat tertentu. Berikut adalah pengertian dari?a. Akhlakb. Perilakuc. Morald. Etikae. Pikiran 2. Etika itu bersifat?a. Khusus b. Umumc. Lokald. Perorangane. Tidak perlu 3. Akhlak berasal dari kata? a. Yunani b. Moresc. Ethosd. Khuluke. Jerman 4. Etika dibagi atas dua macam. Yaitu? a. Normatif dan Obyektivismeb. Subyektivisme dan Deskriptifc. Obyektivisme dan Subyektivismed. Etika Deskriptif dan Etika Normatife. Baik dan benar 5. Berikut adalah akhlak kepada Allah. Kecuali? a. Soudzonb. Berzikirc. Beribadahd. Tawakal e. Beramal6. Standar baik dan buruknya moral dapat dilihat berdasarkan? a. Sunnah Rasul b. Al-Qur'an c. Adat istiadat d. Akhlak e. Perilaku 7. 7. Etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat. Adalah pengertian etika dari segi?a. Kamus Besar Bahasa Indonesib. Istilahc. Etimologid. Al-Qur'ane. Hakikat8. 8. Sebagai cabang pemikiran filsafat, etika bisa dibedakan manjadi dua. Yaitu? a. Normatif dan Obyektivismeb. Subyektivisme dan Deskriptifc. Obyektivisme dan Subyektivismd. Deskriptif dan Normatif e. Baik dan Buruk9. arti dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Adalah pengertian dari? a. Akhlak b. Perilakuc. Morald. Adate. Pikiran10. Moral berasal dari bahasa Latin. Yaitu? a. Yunani b. Mores c. Ethos d. Khuluk e. Jerman TERIMA KASIH
Ilustrasi Ma'rifatullah Artinya Mengenal. Foto. dok. Faseeh Fawaz Ma'rifatullah dalam Islam Lengkap dengan DalilnyaIlustrasi Ma'rifatullah Artinya Mengenal. Foto. dok. Madrosah Sunnah Ma'rifatullah Artinya Mengenal. Foto. dok. Masjid Pogung Dalangan لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُArtinya Allâh yang tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri sendiri dan menegakkan makhluk-Nya Al-Baqarah 255
Ilustrasi Apa itu Marifatullah. Foto. dok. Faseeh Fawaz Islam kita sering kali menemukan istilah marifatullah, bukan? Istilah ini rupanya banyak disebut dalam berbagai kajian keagamaan, khususnya agama Islam. Untuk memahaminya dengan benar, mari kita simak pengertian apa itu marifatullah secara lengkap dalam artikel Marifatullah dalam Islam Lengkap dengan Cara MencapainyaSetiap umat Muslim yang gemar mendatangi kajian agama Islam dalam berbagai majelis taklim tentunya sudah tak asing dengan istilah marifatullah. Istilah marifatullah yang dapat diartikan sebagai mengenal Allah ini rupanya juga cukup populer di kalangan umat Muslim secara umum. Istilah marifatullah yang berasal dari kata a'rofa, ya'rifu yang berarti mengenal. Ma'rifatullah juga dapat diartikan sebagai adalah upaya manusia untuk mengenal Allah lebih jauh sehingga membuat kadar keimanan dan ketaqwaan seorang Muslimin atau Muslimah menjadi lebih lengkap pemaparan mengenai Arti Ma'rifatullah dijelaskan dalam buku berjudul Mendaki Tangga Ma’rifat Menggali Potensi Indra Keenam, Meraih Misteri Karomah yang disusun oleh Syekh Ibnu Jabr ar-Rummi 2020 23.Ilustrasi Apa itu Marifatullah. Foto. dok. Rachid Oucharia buku tersebut dibahas bahwa ma'rifatullah dapat diartikan sebagai mengenal Allah. Lebih lengkap, dalam buku tersebut juga memaparkan bahwa ma'rifatullah artinya mengenal Allah. Ma'rifat dari akar kata 'arif yang artinya tahu atau mengenal. Bahkan istilah marifatullah juga cukup identik dengan kesempurnaan iman dan takwa kepada sebuah ayat Alquran menjelaskan bahwa seorang yang telah mencapai tahap marifatullah maka akan memiliki ketakwaan yang tinggi. Ayat tersebut berbunyiإِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُArtinya Sesungguhnya yang takut kepada Allâh diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu mengenal Allâh Azza wa Jalla ” QS. Fathir 28.Untuk dapat mencapai tahap marifatullah, seorang Muslim perlu mengenal Allah dengan berbagai cara. Dalam buku berjudul Desain Pendidikan Karakter yang disusun oleh Dr. Zubaedi, 2015 130 yang memaparkan bahwa pengenalan akan eksistensi manusia adalah merupakan suatu jalan untuk menuju pengetahuan akan hakikat Apa itu Marifatullah. Foto. dok. afiq fatah untuk sampai pada ma'rifatullah, maka terlebih dahulu seseorang harus mengenal hakikat dirinya sendiri. Itulah sebuah jalan yang pertama-tama harus dilalui. Seorang hamba yang telah mencapai tahap ma'rifatullah akan memiliki ketakwaan dan keimanan yang tinggi kepada Allah dapat diraih dengan berbagai cara. Mulai dari mengenal nama-nama baik Allah atau Asmaul Husna, mempelajari sifat-sifat wajib dan mustahil Allah, bahkan mengenal bentuk-bentuk makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. Dengan begitu, kita akan semakin sadar betapa besar kekuasaan Allah terhadap seluruh makhluk di muka bumi dia penjelasan lengkap mengenai apa itu marifatullah lengkap dengan cara meraihnya dapat Anda terapkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan diri sehingga kita menjadi hamba Allah yang selalu dirahmati dan diridhoi Allah. DAP
ASSALAAMU 'ALAIKUM YAA AKHWANII MUSLIMIINA WA RAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH......... . Para Akhwanil Muslimin yang dirahmati Allah... . Mari bersama- sama menyimak tentang pertanyaan- pertanyaan ilmu Ma'rifat dan serta jawabannya, agar kita semua memahami beberapa hal yang mesti kita fahami. Mari dengarkan sambil berkonsetrasi dalam hati masing- masing. . Pertanyaan pertama . BAGAIMANAKAH UNTUK BISA MENUTUPI PINTU SYAITHAN ??? . Jawabanya adalah . Untuk bisa menutupi pintu- pintu itu mudah saja, asalkan kita tahu rahasia kejadiannya yaitu BUANGKAN KE-AKUAN SENDIRI KEPADA KE-AKUAN ALLAH. ITULAH PENUTUP PINTU- PINTU SYAITHAN... . . Pertanyaan kedua . APAKAH SEGALA PUNCAKNYA ILMU MA'RIFAT ITU ??? . . Jawabannya adalah . Puncak segala Ilmu Ma'rifat itu adalah KOSONG... . . Pertanyaan ketiga . DIMANAKAH YANG DISEBUT RAHASIA PADA AL-QUR'AN ??? . . Jawabannya adalah . Rahasia pada Al-Qur'an itu adalah TIADA HURUF- TIADA SUARA- DAN TIADA KATA- KATA... . . Pertanyaan ke-empat . APAKAH YANG DINAMAKAN TUHAN YANG 'AZALI ITU ??? . . Jawabannya adalah . Yang dinamakan Tuhan yang 'Azali itu ialah TIADA MEMPUNYAI NAMA KECUALI HANYA DINAMAKAN " HUWA ". SETELAH ITU BARU " HU ". HU ITU ADALAH DIA ALLAH TA'ALA, DAN NUR-NYA ITU BERNAMA MUHAMMAD... . . Pertanyaan kelima . APAKAH BEDA NUR ALLAH DENGAN NUR MUHAMMAD ??? . . Jawabannya adalah . Karena Nur Allah dengan Nurnya Muhammad itu TIADA LAIN. Barangsiapa yang mengira berlainan, maka KAFIRLAH IA ITU. . . Pertanyaan ke-enam . BENARKAH NUR ITU ARTINYA CAHAYA ??? . . Jawabannya adalah . ITU TIDAK BENAR. Itu hanyalah kata- kata kiasan saja. NUR YANG SEBENARNYA BUKANLAH CAHAYA, BUKAN BENDA DAN BUKAN DZAT DAN BUKAN SIFAT. Tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahui kecuali ORANG YANG MEMPEROLEH PETUNJUK HIDAYAH DARI-NYA... . . Pertanyaan ketujuh . APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN MAKKAH ITU ??? . . Jawabannya adalah . Yang dimaksud Makkah itu adalah MUHAMMAD. . . Pertanyaan kedelapan . APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN MADINAH ITU ??? . . Jawabannya adalah . Yang dimaksud Madinah itu adalah DUA KALIMAT SYAHADAT. . . Pertanyaan kesembilan . APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN KA'BAH ITU ??? . . Jawabannya adalah . Yang dimaksud Ka'bah itu adalah ADAM. . . Pertanyaan kesepuluh . KEMANAKAH MASUKNYA HURUF MIM- HA- MIM- DAL ITU ??? . . Jawabannya adalah . Masuknya huruf pada MUHAMMAD itu ialah masuk kepada Huruf ALIF- LAM AWAL- LAM AKHIR DAN HA. . . Pertannyaan kesebelas . YANG MANA MENYATUNYA HURUF MUHAMMAD ITU ??? . . Jawabannya ialah . Yang menyatu itu ialah ALIF DIDALAM MIM. LAM AWAL PADA HA. LAM AKHIR PADA MIM. HA PADA DAL. . . Pertanyaan kedua belas . APA ARTI SIN- BA - QAF ??? . . Jawabannya adalah . SIN itu adalah Rahasia alam semesta. BA itu adalah Kejadian alam semesta. KAF itu adalah Meliputi alam semesta. . . Pertanyaan ketiga belas . COBA JELASKAN SEDIKIT SAJA TENTANG SIN - BA - QAF ITU !!! . . Jawabannya begini . SIN - BA - QAF itu adalah SIN itu Rahasia ALLAH Ta'ala BA itu Rahasia MUHAMMAD. QAF itu Rahasia ALAM SEMESTA. . . . . Mari kita simak bersama- sama. Ringkas saja Ana jelaskan. Dengarkan baik- baik dengan seksama . . " ALLAH YA MUHAMMAD- MUHAMMAD YA ALLAH " . APAKAH ARTI " BA - ALIF - MIM - LAM ??? Yakni BAHRUL ABU MALUN LAQUT... . Apakah yang dimaksud dengan BAHRUL ABU MALUN LAQUD ITU ??? . Yang dimaksud itu adalah yang disebut " BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM " Itulah ASMA ALLAH yang sangat Rahasia. . Dari itu wahai para kaum Muslimin Ana Mohon pada kalian semua yang hadir distatus Ana TUTUPLAH ILMU INI KARENA ILMU INI BUKAN UNTUK PARA AHLINYA SEBAB BISA MEMBAWA FITNAH BESAR DIMATA PUBLIK... INGAT ITU !!!?- . . APA MUNGKIN ADA BA -ALIF - MIM - LAM - JIKA TIDAK ADA SIN - BA - QAF TIDAK ADA ??? . . . Nah Tentunya " BA - ALIF - MIM - LAM pun tidak ada juga. Yang jelasnya adalah Jika Muhammad tidak ada, SIAPA YANG MENGATAKAN TUHAN ITU ADA ??? . Jadi buktinya Tuhan itu ADA, adanya AKU. Dan adanya AKU, ADANYA TUHAN. Jadi inti sari kalimat " LAA ILAAHA ILLALLAAHU " Tidak ada Tuhan melainkan AKU... Sekarang AKU-KU Lenyap dalam JIBU. " LAA HARFUN WALAA SHAUTIN " Artinya Tiada Huruf - Tiada Suara atau Tiada Kata- Kata. . . AKU KINI TIDAK ADA DISANA, HANYA ENGKAU- TUNGGAL SEMATA- MATA. KINI AKU TIDAK ADA LAGI MENGATAKAN AKU. HANYA AKU MENGATAKAN ENGKAU-LAH TUHAN-KU. . Yang dimaksud Engkau-lah Tuhan-ku adalah Yang Tuhan itu adalah AKU DIDALAM RAHASIA-KU... . . Nah para Akhwanil Muslimin yang di-Rahmati Allah... . Demikianlah ulasan tentang tanya jawab ilmu Tauhid ini, agar kita memahami tentang ke-Esaan Dzat Allah Ta'ala. Semoga keterangan dari kami ini, menjadi sebuah pengetahuan kita semua. Agar kita menyadari tentang arti hidup didunia ini. Lebih terkurang, Ana Mohon ma'af . Was-Salaamu 'Alaikum Wa Rahmatullaahi Wa barakaatuh... . . Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin...
At Tauhid edisi V/9 Oleh Muhammad Nur Ichwan Muslim Mengenal Allah, Rabbul alamin merupakan intisari dakwah dan risalah. Bahkan hal inilah yang menjadi prioritas utama dalam dakwah setiap rasul. Di berbagai tempat dalam kitab-Nya, Allah memperkenalkan diri-Nya dengan berbagai sifat yang Dia miliki. Sebuah bukti yang jelas bahwa Allah menghendaki agar para hamba mengenal diri-Nya. Bukti yang kongkrit bahwa ma’rifatullah mengenal Allah adalah suatu hal yang dituntut dari diri seorang hamba. Bahkan tidak berlebihan kiranya, jika kita mengatakan bahwa pribadi termulia adalah seorang yang paling mengenal Allah ta’ala. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Saya adalah pribadi yang paling mengenal Allah dari kalian.” Al Fath, 1/89. Begitu pula, senada dengan makna hadits di atas, adalah apa yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Pribadi termulia yang memiliki cita-cita dan kedudukan tertinggi adalah seorang yang merasakan kelezatan dalam ma’rifatullah mengenal Allah, mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya serta mencintai segala sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya.” Al Fawaa-id, hal. 150. Ma’rifatullah serta Mengenal Nama dan Sifat-Nya Pertanyaan yang mungkin terbersit dalam benak kita adalah, “Siapakah ahli ma’rifah tersebut?” atau “Bagaimanakah potret seorang yang dapat dikategorikan sebagai ahli ma’rifah?” Biarlah hal ini dijawab oleh sang pakar hati, Abu Bakr Az Zur’i yang terkenal dengan Ibnul Qayyim, Syaikhul Islam kedua. Beliau mengatakan, “Al arif orang yang mengenal Allah dengan benar menurut para ulama adalah orang yang mengenal Allah ta’ala dengan berbagai nama, sifat dan perbuatan-Nya. Kemudian dibuktikan dalam perikehidupannya yang dibarengi niat dan tujuan yang ikhlas…” Madaarijus Saalikin, 3/337. Pernyataan beliau di atas menunjukkan bahwa pengetahuan dan keimanan seorang hamba tidak akan kokoh, hingga ia mengimani berbagai nama dan sifat-Nya dengan ilmu pengetahuan yang dapat menghilangkan kebodohan terhadap Rabb-nya. Prof. Dr. Muhammad Khalifah At Tamimi mengatakan, “Pengetahuan pengenalan hamba terhadap berbagai nama dan sifat-Nya berdasarkan wahyu yang disampaikan Allah di dalam kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya akan mampu membuat seorang hamba merealisasikan penghambaan ubudiyah kepada Allah secara sempurna. Setiap kali keimanan terhadap sifat-Nya bertambah sempurna, maka kecintaan dan keihklasan kepada-Nya akan semakin menguat. Manusia yang paling sempurna dalam penghambaannya kepada Allah adalah orang yang beribadah dengan merealisasikan seluruh kandungan nama dan sifat-Nya.” Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fii Tauhidil Asma wash Shifaat, Oleh karena itu, mempelajari dan memahami berbagai nama dan sifat Allah merupakan hal yang sangat urgen karena memiliki kaitan yang erat dengan kewajiban untuk mengenal Allah ma’rifatullah. Kaidah Dasar Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam Masalah Nama dan Sifat Allah Kaidah pokok yang diyakini oleh ahlus sunnah wa jama’ah dalam hal ini adalah meneliti semua dalil yang berbicara mengenai nama dan sifat Allah tanpa merusaknya dengan cara mentakwil atau menyelewengkan maknanya. Hal inilah yang akan menghantarkan seorang kepada ma’rifatullah yang benar. Ketika ia mengimani berbagai sifat Allah yang ditetapkan oleh diri-Nya sendiri dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ia mengetahui bahwa Allah memiliki berbagai sifat yang sempurna dan agung. Tidak ada ruang di dalamnya untuk menyelewengkan berbagai sifat tersebut dengan makna-makna yang batil. Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i dalam Tafsirnya 2/294 mengatakan, “Sesungguhnya dalam permasalahan ini pembahasan mengenai nama dan sifat Allah kami meniti menempuh madzhab salafush shalih, yaitu jalan yang ditempuh juga oleh imam Malik, Al Auza’i, Ats Tsauri, Al Laits ibnu Sa’d, Asy Syafi’i, Ahmad, Ishaq ibnu Rahuyah dan imam-imam kaum muslimin selain mereka, baik di masa terdahulu maupun di masa ini. Madzhab mereka dalam permasalahan ini adalah membiarkan dalil-dalil yang berbicara mengenai nama dan sifat-Nya apa adanya, tanpa dibarengi dengan takyif menetapkan hakikat sifat, tasybih menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk dan ta’thil menolak sifat bagi Allah. Segala bentuk gambaran sifat yang terbetik dalam benak kaum musyabbihin golongan yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk tertolak dari diri Allah. Tidak ada satupun makhluk yang serupa dengan-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” QS. Asy Syura 11. Oleh karena itu, pendapat yang benar dalam hal ini adalah pendapat yang ditempuh oleh para imam, diantara mereka adalah Nu’aim bin Hammad Al Khaza’i, guru imam Al Bukhari. Beliau mengatakan, “Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka sungguh dia telah kafir. Barangsiapa yang mengingkari sifat yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya sendiri, maka sungguh dia juga telah kafir. Segala sifat yang ditetapkan Allah dan Rasulullah bagi diri-Nya bukanlah tasybih. Oleh karenanya, seorang yang menetapkan segala sifat yang terdapat dalam berbagai ayat yang tegas dan hadits-hadits yang shahih sesuai dengan keagungan-Nya serta menafikan segala bentuk kekurangan dari diri Allah, maka dia telah menempuh jalan hidayah.” Beberapa Faktor yang Menghalangi Ma’rifatullah Ma’rifatullah terhalang dari diri seorang hamba dengan menafikan sifat-sifat dan menentang berbagai nama yang Dia tetapkan. Bagaimana bisa seorang yang tidak mengakui berbagai nama yang Dia tetapkan berikut sifat yang terkandung di dalamnya bisa mengenal Allah ta’ala?! Bisakah seorang yang tidak mengenal-Nya bisa mencintai-Nya? Al Hasan Al Bashri rahimahullah ta’ala berkata, “Barangsiapa yang mengenal Rabb-nya, niscaya dia akan mencintai-Nya.” Al Hamm wal Hazn Ihya Ulumid Diin, 4/295. Oleh karenanya Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Tatkala pujian dan sanjungan dengan menggunakan nama, sifat dan perbuatan-Nya merupakan sesuatu yang paling dicintai oleh-Nya, maka pengingkaran terhadap nama, sifat dan perbuatan-Nya merupakan tindakan ilhad kriminalitas dan kekufuran terbesar kepada-Nya. Tindakan ini lebih buruk daripada kesyirikan. Seorang mu’aththil menafikan nama dan sifat-Nya lebih buruk daripada seorang musyrik, karena kondisi seorang musyrik tidaklah sama dengan derajat orang yang menentang berbagai sifat-Nya dan hakikat kerajaan-Nya serta mencela sifat yang Dia miliki dan menyamakan/menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Maka, pada hakikatnya kelompok mu’aththil golongan yang menafikan nama dan sifat-Nya adalah musuh sejati para rasul. Bahkan akar seluruh kesyirikan adalah tindakan ta’thil, karena jika tidak dilatarbelakangi oleh ta’thil terhadap kesempurnaaan zat dan sifat-Nya serta buruk sangka terhadap-Nya, tentulah Allah tidak akan disekutukan.” Madaarijus Saalikin, 3/347. Berikut beberapa bentuk ilhad kriminalitas terhadap Allah yang terkait dengan nama dan sifat-Nya, kami sajikan secara ringkas kepada anda dikarenakan keterbatasan ilmu kami. Pertama, menyerupakan menganalogikan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya atau yang dikenal dengan istilah tamtsil atau tasybih. Ketika Allah ta’ala menetapkan diri-Nya memiliki wajah dan tangan, orang yang melakukan tamtsil mengatakan wajah dan tangan Allah tersebut seperti wajah dan tangan kita. Hal ini didustakan oleh Allah dalam firman-Nya yang artinya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” QS. Asy Syuura 11. “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah yang kamu serupakan dengan-Nya.” QS. An Nahl 74. Penganalogian sifat Allah dengan makhluk-Nya merupakan aib, karena Allah, Zat yang Mahasempurna diserupakan dengan makhluk yang penuh dengan kekurangan. Kedua, menolak nama dan sifat Allah, baik menolak seluruhnya atau sebagiannya. Termasuk bentuk penolakan nama dan sifat-Nya adalah menyelewengkan makna nama dan sifat-Nya seperti memaknai sifat cinta yang ditetapkan Allah bagi diri-Nya sendiri dengan arti iradatul lit tatswib keinginan untuk memberi pahala. Orang yang menafikan nama dan sifat-Nya beralasan jika kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah, maka hal ini akan berkonsekuensi menyerupakan-Nya dengan makhluk karena makhluk pun memiliki cinta. Hal ini tidak tepat dengan alasan bahwa Allah ta’ala telah menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan di sisi lain Dia menetapkan bahwa Dia memiliki sifat. Lihatlah surat Asy Syuura ayat 11 di atas! Allah ta’ala menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, namun Dia juga menetapkan bahwa Dia memiliki sifat mendengar dan melihat yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya. Penetapan sifat bagi Allah meskipun memiliki nama yang sama dengan sifat makhluk tidak berkonsekuensi menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Perhatikan kembali perkataan Nu’aim bin Hammad Al Khaza’i, guru imam Al Bukhari Jilani yang dibawakan oleh imam Ibnu Katsir atau kaidah yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Jilani di atas! Demikian pula, alasan di atas dapat dibantah secara logika bahwa kesamaan nama suatu sifat tidak berkonsekuensi adanya kesamaan hakikat sifat tersebut. Contoh praktisnya, makhluk memiliki pendengaran dan penglihatan, apakah pendengaran dan penglihatan mereka antara satu dengan yang lain memiliki hakikat dan bentuk yang sama?! Tentulah kita akan menjawab tidak. Ketika Dia menetapkan sifat mendengar, melihat atau cinta bagi diri-Nya, maka meskipun sifat tersebut juga dimiliki oleh makhluk tentu hakikat sifat tersebut tidaklah sama dengan sifat makhluk-Nya. Sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya sendiri adalah sifat yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya, tidak seperti sifat yang dimiliki oleh makhluk yang dipenuhi kekurangan. Ketiga, menetapkan suatu kaifiyah bentuk/cara bagi sifat Allah ta’ala. Hal ini dinamakan dengan takyif dan termasuk ke dalam bentuk ini adalah mempertanyakan hakikat dan kaifiyah sifat Allah ta’ala. Contoh praktisnya semisal perkataan, “Tangan Allah itu panjang dan besarnya sekian”. Hal ini salah satu bentuk kelancangan terhadap-Nya karena berkata-kata mengenai Allah ta’ala tanpa dilandasi dengan ilmu. Ketika hakikat dan bentuk Zat Allah saja tidak kita ketahui, maka bagaimana bisa kita lancang menetapkan sifat Allah bentuknya begini dan begitu?! Oleh karena itu, ketika Imam Malik dan gurunya, Rabi’ah ditanya mengenai hakikat sifat istiwa bersemayam Allah oleh seseorang, mereka mengatakan, “Istiwa diketahui maknanya, namun hakikatnya tidak dapat dinalar dijangkau oleh logika. Beriman kepadanya wajib dan bertanya mengenai hakikatnya adalah bid’ah.” [Lihat perkataan beliau ini dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 3/398; Itsbat Shifatil Uluw hal. 119 dan Dzammut Takwil hal. 13 dan Lum’atul I’tiqad hal. 64 karya Abdullah bin Ahmad bin Qudamah Al Maqdisi; Idlohud Dalil fii Qath’i Hujaji Ahlit Ta’thil hal. 14 Muhammad bin Ibrahim bin Sa’ad bin Jama’ah; Al I’tiqad hal. 116 Ibnul Husain Al Baihaqi; Al Ulum li Aliyyil Ghaffar hal. 129 Adz Dzahabi. Urgensi dan Kesalahan dalam Ma’rifatullah Berbagai tindakan di atas merupakan perbuatan yang akan menghalangi seorang hamba untuk mengenal Zat yang harus dia cintai. Berbagai tindakan tersebut akan membuat seorang mengenal Rabb-nya dengan bentuk pengenalan yang keliru atau bahkan menghantarkan seorang hamba menjadi pribadi yang tidak mengenal Allah karena dirinya tidak mengenal sifat Zat yang dia cintai. Kita tutup pembahasan kita ini dengan perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah yang menunjukkan pentingnya memahami permasalahan nama dan sifat Allah ta’ala karena sangat terkait dengan ma’rifatullah pengenalan terhadap Allah. Beliau mengatakan, “Mengimani dan mengetahui berbagai sifat-Nya, menetapkan hakikat makna bagi sifat tersebut, keterkaitan hati dengannya serta menyaksikan pengaruh sifat tersebut merupakan jalan awal, pertengahan dan tertinggi untuk mengenal-Nya. Hal ini merupakan ruh bagi para saalikin orang-orang yang berjalan menuju Allah, kendaraan yang akan menghantarkan mereka, penggerak tekad ketika malas dan penggugah semangat ketika tidak maksimal dalam beribadah. Perjalanan mereka menuju Allah bergantung pada bekal-bekal yang akan menopang perjalanan mereka. Setiap orang yang tidak berbekal, maka pasti dia tidak mampu menempuh perjalanan. Dan ketahuilah bekal terbaik adalah pengetahuan terhadap sifat Zat yang dicintai dan itulah puncak keinginan mereka.” Madaarijus Saalikin, 3/350. Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya berbagai sifat Allah yang sempurna dan digunakan untuk berdo’a kepada-Nya serta hakikat berbagai nama-Nya adalah faktor pendorong hati seorang untuk mencintai Allah dan sampai kepada-Nya. Hal ini dikarenakan hati hanya akan mencintai orang yang dikenalnya, takut, berharap, rindu, merasa senang dan tenteram ketika menyebut namanya sesuai dengan kadar ma’rifah pengenalan hati terhadap sifatnya.” Madaarijus Saalikin, 3/351. Demikianlah pembahasan kita kali ini, besar harapan kami uraian ini dapat bermanfaat bagi diri penulis dan orang yang membacanya. Wa shallallahu ala Muhammadin wa ala alihi wa shahbihi wa sallam. [Muhammad Nur Ichwan Muslim]
pertanyaan tentang ma rifatullah